Unsur Intrinsik Novel Belenggu

Unsur Intrinsik Novel Belenggu karya Armijn Pane

1. Tema
Novel ini lebih dominan menceritakan tentang percintaan antara Sukartono, Sumartini, dan Rohayah.

2. Alur
Alur pada novel ini menggunakan alur maju.

a. Tahap Perkenalan
Tahap perkenalan dimulai dengan pengenalan tokoh-tokohnya. Dokter Sukartono, seorang dokter yang sangat mencintai pekerjaannya sebagai dokter yang professional karena giat dalam bekerja dan ramah kepada pasien-pasiennya. Dia menikah dengan seorang gadis cantik bernama (Sumartini).Tetapi rumah tangganya tidak harmonis karena sering beradu mulut.Dokter Sukartono sibuk dengan pekerjaannya, sementara Sumartini hanya menjaga telpon dan menulis blocnote jika ada pasien yang meminta pertolongan suaminya.Diperkenalkan pula Rohayah seorang wanita korban kawin paksa dan dia menjadi wanita panggilan. (Belenggu, 2006:17-18)

b. Tahap Perumitan/Awal Masalah
Dimulai saat Rohayah berpura-pura sakit. Pada awalnya Rohayah terkenal dengan sebutan Ny. Eni, karena ingin bertemu dengan Tono, dia berpura-pura sakit dan meminta Dr. Sukartono untuk memeriksanya.Saat itu dia tinggal disebuah hotel.
Rohayah dan Sukartono semakin akrab, sehingga timbuhlah perasaan cinta pada diri Sukartono.Rohayah sebenarnya sudah lama mengenal Sukartono, karena Sukartono adalah tetangganya waktu masih tinggal di Bandung dulu.Akhirnya, Yah memberitahukan hal itu.Hubungan mereka semakin dekat, Tono sering mengajak Rohayah jalan-jalan.Pada waktu itu pula hubungan Tono dan Tini mulai renggang. Tono jarang dirumah, Tini tak mengerti mengapa suaminya berubah secepat itu.(Belenggu, 2006:18-78)

c. Tahap Klimaks
Tahap ini dimulai ketika Tono semakin yakin Rohayah bisa memberikan kasih sayang yang sesungguhnya dan selama ini belum didapatkannya dari isterinya.Tono merasa tidak tentram berada dirumahnya, dia lebih merasa nyaman dirumah Yah dan dia menganggap Rumah Yah sebagai rumah keduanya.Hubungan gelap ini diketahui Tini.Sumartini merasa sangat marah mengetahui hubungan mereka.Sumartini pun berangkat mencari kediaman Rohayah bermaksud memaki Rohayah dan meluapkan semua kekesalannya. (Belenggu, 2006:130)

d. Tahap Peleraian
Peleraian dimulai ketika Tini sudah bertatap muka langsung dengan Rohayah. Dia merasa sudah gagal menjadi seorang isteri.(Belenggu, 2006:133-136)

e. Tahap Penyelesaian
Tahap akhirnya ketika Sumartini merasa mantap untuk berpisah dengan Sukartono.Pada awalnya Sukartono tidak mau mengabulkannya, karena apapun yang terjadi Tono tidak mau ada perceraian dalam rumah tangganya.Namun Tini tetap bersikeras.Akhirnya nereka sepakat untuk bercerai.
Hati Sumartono sangat sakit karena perceraian tersebut.Hatinya semakin sakit setelah mengetahu Rohayah juga meninggalkannya. Tono dan Tini berpisah, mereka tidak dapat mempertahankan kehidupan rumah tangga mereka, dan Yah pun pergi ke Kaledonia Baru meninggalkan Tono, orang yang dicintainya itu.(Belenggu, 2006:136-150)

3. Latar
a. Latar tempat :
 Dirumah Kartono, sebagai contoh terdapat pada :
Seperti biasa, setibanya dirumah lagi, dokter Sukartono terus saja menghampiri meja kecil, di ruang tengah, dibawah tempat telepon.

 Dihotel, sebagai contoh terdapat pada :
Dokter Sukartono diam saja sejurus memandang ke arah hotel itu, dia merasa heran sedikit.
“Masuk saja ke pekarangan, tuan dokter?”
“Masuklah,” kata Sukartono dengan agak bimbang.
Ketika mobil berhenti disisi tangga, seorang orang yang berpakaian uniform berdiri disisi mobil, sambil mengangguk.
“Ini nomor 45?” tanya Abdul, lalu keluar.
“Benar, nyonya Eni sudah menunggu.”

 Dirumah Rohayah, sebagai contoh terdapat pada :
Sehabis payah praktijk, Kartono biasalah pergi kerumahnya yang kedua akan melepaskan lelah. Pikirannya tenang kalau disana.Disanalah pula dia acapkali membaca majalah dan bukunya yang perlu dibaca, sedang Yah lagi asyik merenda.

 Di tepi pantai di Priok, sebagai contoh terdapat pada :
Entah bagaimana, dia sampai juga dengan selamat di tepi pantai di Priok. Dia terbangun oleh desir ombak. Bulan tiada bersinar diatas gelombang.Terang-terang gelap diatas air.

 Di Bazaar, sebagai contoh terdapat pada :
Sudah pukul delapan malam.Bazaar sudah dibuka tadi pukul tujuh oleh nyonya Sumarjo dengan pidato yang ringkas dan tepat.

 Di gedung Concours, Pasar Gambir, sebagai contoh terdapat pada :
Begitu juga Tono.Malam itu dia menjadi jury concours kroncong perempuan.Sesampainya didalam gedung, concours sudah hendak mulai.Baik diluar, maupun didalam penuh sesak dengan penonton.

b. Latar waktu :
 Malam hari, sebagai contoh terdapat pada :
Sukartono duduk membaca, lampu meja disebelah kirinya, terang diatas buku itu, mukanya sendiri gelap.Dul baru keluar, baru minta permisi pulang.Hari sudah pukul Sembilan malam

c. Latar suasana :
 Jengkel, sebagai contoh terdapat pada :
Dihampirinya isterinya.Tini agak terkejut. Bisik Tono dengan cepat: “Aku pergi…..” Itu saja yang terdengar oleh Tini, Tono sudah jauh lagi. Pergi, pergi, buat apa dikatakannya, hendak menjengkelkan hatiku saja.

 Sedih, penuh penyesalan, sebagai contoh terdapat pada :
Sesuaikah pikirannya dengan Aminah dan lain-lainnya? Ah,peduli apa. Bukan sudah….. tidak, tidak, melawan dalam pikirannya, kami belum berpisah…… kalimat itu berulang-ulang dalam pikirannya, air matanya titik, membasahi bantal……. Lama kelamaan dia tertidur.

 Marah, sebagai contoh terdapat pada :
“Suaramu palsu Yah, seperti didalam hatimu juga bohong belaka.Sangkaku engkau jujur, engkau tidak main tonil. Ah, tapi kamu perempuan semuanya pemain tonil. Tidak ada yang benar, yang jujur pada tubuhmu, dalam hatimu………”

4. Sudut pandang
Sudut pandang pada novel Belenggu, si penulis yaitu Armijn Pane tidak menceritakan tentang dirinya, melainkan dia menceritakan orang lain. Bisa kita katakan, penulis berperan sebagai orang ketiga.Pengarang tidak terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung di dalam cerita itu.

5. Tokoh
a. Tokoh utama :
 Sukartono : baik, sangat mencintai pekerjaannya, penyayang, sabar, dan penyuka lagu keroncong terutama lagu yang dinyanyikan Siti Hayati.
 Sumartini : wanita modern, mandiri, memiliki ego yang tinggi, dan cepat gusar.
 Rohayah : wanita yang lemah lembut,cerminan isteri idaman Sukartono, dan penuh perhatian.

b. Tokoh pendukung :
 Karno
 Aminah
 Nyonya Rusdio
 Nyonya Sumarjo
 Husin
 Nyonya Padma
 Mardani
 Marlinah
 Tuan Sumardi
 Kartini
 Darusman
 Tuan Abdul Kahar
 Hartono
 Abdul
 Mangunsucipto

6. Bahasa
Bermajas dan berdiksi
1. Majas
 Personifikasi
• Matanya tetap melihat pada satu tempat saja, karena perhatiannya seolah-olah meraba-raba dalam pikirannya.(Belenggu, 2006:18)
• Tiada tampak oleh Sukartono cahaya tanda girang yang mengerlip dalam mata perempuan itu.(Belenggu, 2006:20)
• “…. Hatinya hendak membacanya, hendak membaca olokannya,….” (Belenggu, 2006:31)
• Karena itu terbit ingin hatinya menduga hati perempuan itu.(Belenggu, 2006:30)
• Tiada kuketahui, timbul juga namamu dengan tiada kuketahui, karena bayang-bayangan ingatan yang tergambar pada air mukamu.(Belenggu, 2006:49)
• Kalau engkau mengenal aku dahulu, benar-benar kenal, bukan kenal-kenal saja, engkaupun tahu, mestilah tahu,…. didalam hatiku dingin, seperti es. (Belenggu, 2006:61)
• Didalam hati Kartono terbit lagi keinginan menggenggam tangan jiwanya, memegang jiwa yang menggelepar-gelepar itu kuat-kuat jangan jatuh kedalam air.(Belenggu, 2006:62)
• Dia merasa bimbang, pertanyaan yang demikian kerap kali terbit dalam pikirannya.(Belenggu, 2006:67)
• “Tini gunung berapi yang banyak tingkah! Penyakit yang banyak complicate.”(Belenggu, 2006:67)
• “Tumbuh didalam hatinya keinginan hendak memegang tangan Yah, hendak memandangnya dalam matanya, yang riang beriak-riak,….”(Belenggu, 2006:73)
• Yah terkejut melihat mukanya yang gelap itu.(Belenggu, 2006:73)
• Air muka ini akan serasa-rasa terperas karena merasa sedih.

 Metafora
• Ingatannya melayang lagi kerumah yang baru dikunjunginya. Perempuan tambun, tegap sikapnya, dikepalanya seolah-olah kembang melati putih, karena rambutnya yang sudah beruban itu.(Belenggu,2006:16)
• “….Mengapa….,” Sukartono tiada meneruskan pertanyaan itu, karena tiba-tiba dalam pikirannya seolah-olah fajar menyinsing.(Belenggu, 2006:27)
• Tono, engkau bimbang. Zaman dahulu hendak kau ketahui juga. Tono, tidak semua zaman dahulu merusuhkan hati, tidak semua tiada baik diingat, tapi ada jua yang seolah-olah bintang pagi bersinar-sinar dalam hati.(Belenggu, 2006:47)
• “…. Karena teringat akan zaman dahulu teringat akan kasih sayang lama, ibarat tertampung oleh tangan ingatan zaman dahulu itu.”(Belenggu, 2006:51)
• Persahabatan kita tiada sempat berputik, menjadi bunga, berkembangkan kasih sayang.(Belenggu, 2006:51)
• “…. Yang sambil memanah hatinya sendiri, tetapi tiada diketahui oleh Aminah, tiada maklum panah itu bertimbal balik.”(Belenggu, 2006:52)
• Kartono melihat sikap Tini menggerendeng pula, seolah-olah harimau tertangkap, maka hatinya makin tenang.(Belenggu, 2006:59)
• ”Bukan, aku tiada berubah, engkau yang tiada pernah mengenal aku.”Memang Tini susah diduga. Licin sebagai belut.(Belenggu, 2006:60)
• Selalu saja tinggi hati; seperti batu karang meninggi di tepi pantai, berbahaya bagi kapal menghampirinya.(Belenggu, 2006:65)
• Kata Yah sejuk lembut, masuk dalam hati Kartono, sebagai air seteguk menghilangkan haus, tetapi hausnya belum juga hilang sama sekali.(Belenggu, 2006:75)
• Terdengar kepada Tono lagu pembuka, bagai air meriak, membuka simpulan dalam pikirannya, tiba-tiba terdengar suara.(Belenggu, 2006:75)
• “Jujur katamu? Kejujuran bohong. Bidadari ialah setan, setan ialah bidadari….. engkau, siapakah engkau?” Yah tersenyum, karena mendengar lagu suara Tono sudah berubah. Katanya: “Bidadari….. untuk engkau….. setan bagi orang lain.”(Belenggu, 2006:121)

 Hiperbola
• “Sukartono terkejut, memandang kearah isterinya, tetapi ia sudah berpaling lagi, menuju ke kamar tidur. Menyala-nyala dalam hatinya, hendak terhambur kata marah dari mulutnya….. ”(Belenggu, 2006:19)
• Didalam kamar sudah tiada tahan lagi, serasa sempit, meskipun kamarnya itu masuk kamar yang terbesar dalam hotel itu.(Belenggu, 2006:26)

• “Hilanglah mimpiku, jatuhlah aku lagi ke lembah…….. ke lembah kebenaran hidupku dahulu. Ingatlah mereka yang putus asa di Priok? Demikianlah nanti hidupku, lama kelamaan kami menjadi demikian. Barang lama turun harga, tiap-tiap tahun dating model baru.” Katanya dengan masam.(Belenggu, 2006:38)
• “…. Karena, Tono, siapa hendak menaruh barang yang sudah buruk lagi bernoda?”(Belenggu, 2006:48)
• “Air mata yang membendung hatiku telah mengalir…… tidakah engkau ingat Rohayah?”(Belenggu, 2006:48)
• Tertimbun oleh ingatan akan gadis-gadis yang ribuan banyaknya.(Belenggu, 2006:48)
• Kalau dicobanya menduga lebih dalam, jalan pikirannya tertumbuk, seperti cintanya tertumbuk batu karang, pada besi…… pada lapisan es yang terlingkup pada hati jiwa Tini.(Belenggu, 2006:66)
• Tetapi sekarang yu, sudah tiba waktunya. Kalau mesti aku rela binasa.(Belenggu, 2006:70)
• Kedua belah tangannya memegang stir mobilnya dengan keras, badannya membungkuk, mobil melancar, kerusuhan jiwanya seolah-olah mengalir ke roda mobil, memutar roda biar cepat secepatnya.(Belenggu, 2006:73)
• Pikirannya seolah-olah tertutup, seolah-olah pikirannya hilang, sebagai dalam mimpi, didalam hatinya seolah-olah meluas, memadamkan pikiran….. Tiada lagi suara didalam hatinya, tiada lagi suara lain dari suara luar, lain dari pada suara kekasihnya itu.

 Ironi
• Sekarang banyak yang cemburu melihat prakteknya maju, disegani lagi disukai orang.
Kata orang: “Dia tiada mata duitan, kalau dia tahu si sakit kurang sanggup membayar, dia lupa mengirim rekening.”
“Tetapi ,” kata seorang lagi, “kalau dia dipanggil tengah malam,suka juga.”(Belenggu, 2006:24)
• “Ada apa, sebanyak ini tamu kami sekali ini?”
“Bukankah biasa menerima tamu banyak-banyak?” kata puteri Aminah berolok-olok.“Bukankah lebih banyak tamu, lebih senang?”(Belenggu, 2006:42)
• “Mengapa?” tanya Mardani.
“Bukan tingkahnya hendak menarik mata laki-laki saja?”
Mardani tersenyum, merasa puteri Kartini cemburu. Katanya, hendak berolok-olok: “Ah bukanlah salahnya kalau mata laki-laki tertarik. Memang sudah dasarnya…….”
“Itulah yang tiada baik itu, sudah dasarnya!”(Belenggu, 2006:83)
• “Bukan sudah kukatakan dahulu, kalau dia masih dihinggapi penyakit seni, tentu tiada akan menjadi dokter. Sekarang penyakitnya itu sudah sembuh.” (Belenggu, 2006: 24)
• “Sejak kapan tuan dokter Sukartono mata duitan?” (Belenggu, 2006: 42)
• “Kami tiada lama lagi, lekas-lekaslah pulang mengawani Tini.” (Belenggu, 2006: 44)
• “… Tono, siapa hendak menaruh barang yang sudah buruk lagi bernoda?” (Belenggu, 2006: 48)
• “Jangan terlalu rajin, Tini, nanti Kartono marah.” (Belenggu, 2006: 52)
• “Coba angan-angankan, jiwa digantung! Mari tuan-tuan, nyonya, disini ada jiwa digantung.” (Belenggu, 2006: 115)
• “Sipatmu tidak dapat berubah, kerbau suka juga kepada kubangan. Dalam lumpur tempatmu, kembalilah engkau ke sana.” (Belenggu, 2006: 121)
• “Mana perempuan yang baik-baik, suka berkenalan dengan perempuan seperti engkau?” (Belenggu, 2006: 131)

7. Amanat
• Dalam sebuah hubungan percintaan kita dituntut untuk saling menghormati dalam perselisihan dan perang kata, kita harus bisa lebih menahan diri dari pasangan kita.
• Bagi Isteri hormati dan layanilah Suami dengan tulus dan ikhlas jangan terpaksa dan lebih mengedepankan ego.
• Tidak pantaslah jika seorang isteri pergi sesuka hati tanpa izin dan sepengetahuan suami.
• Tolong-menolong dan saling berbagi dengan sesama harus dikedepankan untuk kerukunan bersama.
• Sikap saling percaya, sabar, dan saling menghargai bisa menjadi pencegah perselingkuhan.
• Seorang isteri tidak boleh melupakan tugas utamanya dalam keluarga dan selalu sibuk dengan pekerjaan luarnya, begitu juga seorang suami harus selalu mengedepankan kepentingan keluarga di banding kepentingan pekerjaan atau kepentingan lainnya.
• Seorang perempuan harus bisa menjaga diri dan tidak terbawa arus globalisasi yang semakin pesat.
• Sebaiknya jangan suka menggunjing apalagi masalah rumah tangga orang lain.
• Seharusnya dalam kehidupan berumah tangga harus didasari rasa cinta antar pasangan.

8. Suasana
Suasana pada novel ini penuh tekanan, dan kesedihan seperti judulnya “Belenggu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s