Kisah Sebuah Karya Ilmiah

“Sabarlah wahai yang paling kukasihi. Bangkitlah dengan tegar jika aku terjatuh keletihan. Sabarlah sampai aku tahu bahwa embusan-embusan nafasku yang berserakan tidak hilang, tetapi akan menyatu kembali dalam lagu yang merdu, lagu yang merdu itu adalah dikau. sabarlah agar aku dapat berucap kepada hatiku bahwa Engkau akan memulai saat aku berhenti agar menjadi singkat jalan dibawah telapak kakimu.”

penulis hebat

penulis hebat


Itulah syarat pertama dari sekian syarat perjanjian agung antar penulis besar Amerika, Will Durant dengan istrinya Ariel. Sang suami menghadiahkan kepada istrinya buku pertamanya yang indah The Story of Philosophy, yang terjual sebanyak dua belas juta eksemplar. Dia bermohon kepadanya untuk bersabar sampai dia selesai menulis sejarah manusia seluruhnya dan berjanji akan melanjutkan bersama kehidupan sejahtera yang tenang dan bijak setelah itu.
Mereka berdua sepakat untuk bersabar selama empat puluh tahun. Dalam masa itu Will Durant membaca delapan puluh ribu buku dan menulis catatan-catatan menyangkut peristiwa-peristiwa sejarah dalam lima juta kertas catatan kecil. Dalam kurun waktu itu ia juga menerbitkan sepuluh buku dan riwayat panjang. Tetapi karyanya yang paling besar adalah bukunya yang popular yaitu The Story of civilization yang terdir dari 10 jilid, dan berakhir menyangkut uraian tentang Revolusi Prancis 1798.
Setelah terbitnya jilid ke-10, penulis besar itu mengumumkan bahwa misinya telah selesai dan bahwa dia telah memutuskan untuk melaksanakan akad perjanjiannya dengan istrinya, yaitu memulai kembali hidup normal setelah ia berhasil meraih kejayaan dan harta yang banyak. Dia telah berhasil meraih tiga juta dollar, tetapi putrinya Ethel, yang banyak membantunya bertanya: “Apa makna yang terjadi ini? Apa makna sejarah? Apa nilai studi sejarah? Apa yang dapat diraih oleh seorang awam apabila ia membaca sejarah negaranya atau sejarah peradaban umat manusia?” Ketika itu penulis besar Will Durant menoleh kepada istrinya dan tanpa terjadi diskusi, keduanya duduk, mendekatkan kedua kepala mereka, dan tangan mereka terulur kekertas, sehingga dengan demikian tertunda lagi “bulan madu” selama enam bulan sampai terbitnya buku The Lesson Of History. (Cuplikan dari tulisan Anis Manshur, artikel pertama yang termuat dalam Koran Akhbar al-Yaum. 1969)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s