Batak Ka Pinggir, Dayak (yang) Tersingkir

     

image

Masih segar diingatan saya, beberapa tahun yang lalu, Dermaga Banjar Raya di Banjarmasin (Kalimantan Selatan) merupakan salah satu dermaga sungai teramai di Kalimantan. Bukan saja karena dermaga itu menjadi pusat transportasi air dan titik akses ekonomi masyarakat yang menghubungkan Kalsel dan Kalteng, tetapi juga Kalteng dengan wilayah Barito karena memang harus melewati Banjarmasin.
      Ketika itu, transportasi air melalui sungai, baik bus air dan speedboat masih sangat dominan dan menjadi favorit. Selain murah, meriah, juga untuk kaum muda, tidak sedikityang menemukan kenalan baru, bahkan jodoh di atas kapal. Namun, sejak infrastruktur jalan dan jembatan dibangun untuk mengakses ibukota antarprovinsi dan kabupaten, transportasi air pun pelan-pelan mati. Alasannya karena waktu tempuh yang semakin singkat.
     Dahulu, perjalanan Palangka Raya-Banjarmasin harus ditempuh dua hari dua malam. Itu tergantung pasang-surut air sungai di Anjir Kalampan, yang memotong Sungai Kahayan dan Sungai Kapuasantara Pulang Pisau dan Mandomai sepanjang lebih kurang 14 km, dan di Anjir Serapat yang memotong Sungai Kapuas dan Sungai Barito sepanjang lebih Kurang 40 km.
Kalau musim kemarau, tidak jarang,perjalanan itu harus ditempuh tiga hari-tiga malam. Kini Palangka Raya-Banjarmasin yang hanya 200 km, hanya ditempuh dengan waktu 4 (empat) jam. Sangat singkat.
Lalu, mengapa “batak ka pinggir”? kesibukkan  Dermaga Banjar Raya membuat aktivitas orang dan barang ketika itu sangat padat. Tidak saja oleh kapal-kapal besar sekelas bus air yang mampu mengangkut hingga 200-an orang, tetapi juga kapal-kapal kecil dan perahu juga menyesaki dermaga. Dermaga yang terasa semakin sempit membuat aktivitas di dermaga sangat melelahkan.
“Batak ka pinggir! Batak ka pinggir!” Teriak para preman pelabuhan memerintahkan batak (sejenis perahu kecil yang hanya muat satu orang) untuk segera menyingkir agar tidak terjepit di antara kapal-kapal besar yang hendak merapat di tiang-tiang dermaga. Tidak sedikit kawan-kawan suku Batak yang ikut segera menyingkir ketika mendengar teriakkan itu. Beberapa kawan pun berseloroh,”Dengar tuh, di sini, preman Banjar yang berkuasa.” Siapapun tersingkir.
Bagaimana dengan Dayak (yang) Tersingkir? Dahulu, suku Dayak identik dengan kelompok masyarakat primitive penghuni pulau Kalimantan. Saking primitifnya, banyak orang malu mengaku Dayak. Miris, termasuk juga kelompok masyarakat Dayak yang kemudioan menjadi muslim, merasa lebih nyaman menyebut diri “Urang Banjar” atau “Kelompok Melayu”.
      Pendeta Dr. Marko Mahin,MA pernah bercerita, dahulu, orang Dayak yang berani merantau ke Banjarmasin pun menjadi objek olok-olokkan, karena masih dianggap primitive, dengan membawa kepolosan dan keluguan yang dianggap terbelakang. Meski sesungguhnya ada budaya, cara hidup, dan kearifan lokal yang hanya dimiliki suku Dayak.
Kini, masyarakat suku Dayak, meski secara kualitas jauh lebih maju, namun secara kuantitas semakin sedikit. Sulit mencari “orang Dayak” yang tidak ada dibelahan dunia selain Pulau Kalimantan. Meski bukan kelompok masyarakat pelaut dan nomaden, perantau Dayak lumayan berani merantau hingga ujung bumi, dengan membawa kualitas diri dan kemampuan intelektualnya. Itu membanggakan.
      Di tanah leluhurnya, akankah semakin surut menjadi kelompok minoritas yang lambat laun terpinggirkan? Jika 30-an tahun yang lalu, berdasarkan sensus penduduk tahun 1980, jumlah penduduk Kalteng hanya berjumlah 960.834 jiwa, dan 90 %-nya adalah masyarakat Suku Dayak, maka jika dibandingkan dengan sensus penduduk tahun 2012, penduduk Kalteng yang sudah berjumlah 2.514.375, masyarakat Suku Dayak-nya sudah tidak sampai 40%.
Belum lagi ditambah dengan kawasan dan wilayah yang habis dibagi-bagi untuk dijadikan lahan investasi. Tidak sedikit masyarakat suku Dayak yang justru tidak memiliki lahan pertanianatau kebun untuk hidup dan berusaha. Mereka disingkirkan oleh kaumnya sendiri yang kini memegang tampuk kekuasaan dengan alasan investasi.
      Pekan Budaya Dayak di Jakarta 27-30 April 2013 lalu, paling tidak, menjadi salah satu ajang pamer kekuatan, bahwa suku Dayak, bukan lagi kelompok masyarakat primitive. Masyarakat suku Dayak adalah kelompok minoritas yang bisa dan mampu menguasai Indonesia. Paling tidak, masyarakat suku Dayak juga punya presiden. Artinya, kalau pun kelak (meski tak mungkin), masyarakat menuntut Kalimantan merdeka, sudah ada presiden yang mengepalai negaranya.

Oleh:  Pahit S. Narottama (KatengPos, edisi 1 Mei 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s