Membangun Kesadaran Politik

image

Oleh : Mahyuni

      Diakui atau tidak, bahwa pada kenyataan empiric, kondisi kesadaran politik masyarakat (terutama grassroot) masih sangat rendah. Ini terbukti pada setiap periode lima tahunan, baik pemilu kepala daerah maupun pemilu legislative masih banyak pilihan-pilihan yang tidak rasional, asal-asalan, ikut-ikutan, terpengaruh iming-iming dan lain-lain.    Malahan ada banyak calon pemilih yang bahkan acuh tak acuh/tak peduli dengan pemilu atau memilih golput, karena dianggap buang-buang waktu, tak bermanfaat alias percuma.
Padahal kalau kita cermati inilah momentum penting bagi kita untuk menyalurkan aspirasi dan harapan.

Sudah saatnya masyarakat kita peduli dengan penentuan nasib bangsa ini kedepannya. Kita tidak boleh acuh tak acuh dengan pemilu termasuk asal-asalan dalam memilih. Seharusnya kita bisa dan harus bisa menilai yang kita pilih, apakah memenuhi criteria yang kita inginkan atau tidak?
Memilih dalam pemilu, layaknya bagaikan kita ingin membeli suatu barang. Tentunya kita harus memiliki konsep tentang barang tersebut kita perlukan, warnanya cocok, ukurannya, style-nya dan sebagainya.

ALAT POLITIK

      Kita tentu miris mendengar apabila ada ungkapan rakyat kecil hanya dijadikan alat politik oleh oknum tertentu. Disebut sebagai alat saja, kita sudah pantas tersinggung karena yang namanya alat, tentu derajatnya lebih rendah ketimbang yang menggunakan alat. Sedangkan,pada kenyataannya secara fisik keadaanya sama dengan pemegang alat (sama-sama punya tangan, kaki, perasaan, mata. Telinga dan bahkan otak). Penyebutan nama alat itu adalah suatu pelecehan terhadap individu/kelompok yang diperalat.
      Pernah kita mendengar kata-kata seperti ini yaitu bahwa rakyat kecil bisa dijadikan kendaraan politik. Membayangkan yang namanya kendaraan, asalkan sudah diisi bahan bakar, minyak pelumas, sistem pendingin, maka dia akan siap berjalan sesuai dengan keinginan tuannya.
      Mungkin kita juga pernah mendengar bahwa harga kita (dalam konteks sebagai alat) Cuma setara dengan satu kilogram daging atau dengan satu pak mie instan. Mungkin alat hanya diperlukan pada saat digunakan dan tidak atau bahkan dibuang pada saat tidak diperlukan. Namun sebagai pemilik alat/majikan yang baik tidak demikian dan tetap merawatnya sebagai asset berharga serta bagian sejarah perjuangan.

ELEMEN PEMBANGUNAN

      Masyarakat yang baik adalah mereka yang sadar bahwa dia adalah bagian dari proses pembangunan. Merupakan variabel penting yang tidak bisa dipisahkan dari variabel lainnya dan saling berinterkasi positif untuk mencapai pembangunan yang menjadi visi bersama. Karena itu, sudah sewajarnya masyarakat turut berpartisipasi dalam pembangunan termasuk pembangunan politik sesuai dengan porsi masing-masing.
Berpartisipasi dalam pemilu, berarti kita turut membangun kesadaran politik, membangun demokrasi dengan catatan tidak ikut-ikutan/asal pilih. Sebagai elemen pembangunan mereka sadar bahwa memilih calon pemimpin yang baik (eksekutif/legislatif) adalah merupakan hak di samping juga tanggung jawab.
      Memanfaatkan hak berarti dia harus menentukan, apakah dia harus (memilih ataukah tidak memilih calon tertentu) tapi bukan golput; karena golput hanyalah merupakan refleksi dari ketidakpercayaan terhadap calon oleh pemilih. Bertanggung jawab berarti yang bersangkutan dengan segala keyakinan dan kemampuan analisisnya memilih figure yang baik demi pembangunan bangsa dan Negara ini kedepannya.

POLITIK UANG

      Politik uang dalam pemilu memang susah-susah gampang untuk dibuktikan. Hal ini kita maklumi karena yang melakukan tidaklah seperti transaksi jual beli biasa (ada tanda terima seperti kuitansi). Pihak-pihak yang melakukan politik uang harus bersama-sama menjaga kerahasiaannya, demi keuntungan bersama. Jadi adalah tindakan yang tidak bijak apabila ada tanda bukti, karena mungkin saja tanda bukti suatu saat menjadi boomerang bagi pihak-pihak tersebut.
      Politik uang bukan saja tindakan melawan hokum, tidak fair (tidak jujur) dan rawan manipulasi, baik oleh pihak yang member maupun pihak yang menerima. Pihak yang member, bisa saja setelah menang mungkin melupakan janji-janji/komitmen karena mereka merasa telah membayar, sementara pihak penerima kecewa dengan janji dan harus puas dengan apa yang telah mereka terima sekarang. Begitu pula sebaliknya pada saat pemberi tidak terpilih (kalah), maka dapat berakibat fatal seperti stress berat. Bahkan, wallaahu a’lam.
      Jadi politik uang bisa terjadi antara pihak yang member dan pihak yang menerima saling berbohong, saling memperalat dan hal itu tersebut tidaklah member pengaruh yang baik bagi pendidikan politik sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Belum lagi kalau kita berbicara lebih jauh tentang akibat lanjutan dari politik uang; Masya Allah dampaknya sangat luar biasa.

PENUTUP

      Apabila kita cermati dari uraian tersebut di atas, maka sebagai elemen pembangunan termasuk pembangunan politik kita harus mengerti hak dan kewajiban kita sebagai warga Negara yang baik.
      Sebagai masyarakat yang cerdas tidaklah semestinya kita dijadikan sebagai alat-alat politik oleh pihak-pihak tertentu, lebih-lebih dengan beralaskan politik uang yang kita pahami sebagai tindakan pelecehan terhadap harkat dan martabat kita sebagai manusia.
      Tulisan ini tidaklah bertendensi menyudutkan pihak-pihak tertentu, melainkan hanya sebuah cita-cita, harapan, pemikiran dan sudut pandang dari seorang mantan penyuluh pertanian yang sudah purnatugas (bahasa Melayu : lasykar tak bergune).
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s