Jangan Berputus Asa dari Mukjizat Langit

wpid-ayatkursi-wordpress-com-riyadhohayatkursi-com-riyadhohayatkursi-wordpress-com-ayat-kursi-tulisan-ayat-kursi-khasiat-ayat-kursi-karomah-ayat-kursi-hikmah-ayat-kursi-ijazah-ayat-kursi-riy.jpg
Dokter berkata Kepadanya :

“Ibu, saya tahu Anda seorang miskin, anak-anakmu membutuhkan setiap
rupiah dari uangmu, karena itu saya akan berterus terang kepadamu. Sama sekali tidak ada gunanya obat mahal yang akan Engkau belikan untuk orang tuamu yang sakit ini. Dia akan segera mati dalam beberapa jam atau beberapa hari lagi. Umurnya telah sempurna. Dia tidak akan hidup kecuali berkat mukjizat dari langit. Sedang kini kita tidak lagi dalam era mukjizat. Karena itu, sekali lagi, hematlah uangmu. Nasihatku untukmu adalah siapkanlah sekarang juga proses penguburan.”

      Sang dokter menyampaikan hal itu sambil meninggalkan nyonya tersebut bergelimang air mata di samping ayahnya yang sakit.

      Memang, harga obat tinggi. Dia sendiri sudah sangat menghemat menyangkut makanannya dan makanan anak-anaknya agar dapa membeli obat untuk ayahnya yang sakit itu. Selama ini tidak ada susu, cokelat, dan daging untuk mereka agar nyonya itu dapat membeli obat untuk seorang tua yang tidak ada harapan “menurut dokter” bagi kelanjutan hidupnya.

Sang ibu menengadah ke langit, bertanya dan “meminta nasihat-Nya”: “Apakah dia mendengar bisikan waham/keraguan hatinya atau memperkenalkan hakikat-hakikat yang disampaikan dokter?”

Lalu benaknya mendengar jawaban langit berkata kepadanya:

“Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Jangan percaya bahwa era mukjizat telah berlalu. Sungguh era itu sama sekali tidak akan berhenti.”

      Sang ibu memutuskan membeli obat. Hari ini telah berlalu tujuh tahun dari peristiwa di atas. Sang ayah yang sebelumnya itu parah penyakitnya telah pulih kesehatannya. Obat berhasil menyelamatkan nyawanya pada detik terakhir.

      Kasus di atas diusik dalam pengadilan salah seorang dokter di Inggris karena dia “mempercepat” kematian dua orang pasien yang mengidap kanker demi menghindarkan keduanya dari rasa sakit yang mereka derita. Sang dokter berkata:

“Saya lakukan hal tersebut karena saya kasihan padanya, agar ia tidak berlalu lama menderita.”

      Tetapi hakim mempersalahkan dokter. Media massa pun rebut. Saya mendukung putusan hakim karena rahmat Allah tidak terbatas, sungguh suatu keluguan jika kita menganggap bahwa rahmat tersebut telah tiada, betapapun para pakar berkata. Namun kita masih saja hidup di era mukjizat. Kita masih dikejutkan setiap saat oleh mukjizat yang baru dari aneka mukjizat langit. Karena itu jangan percaya bahwa waktu telah berlalu. Sungguh waktu belum berlalu. Hari esok dapat membawa mukjizat dari langit. (Ali Amin, kolom “fikrah”, Koran al-Akhbar, Cairo, 6 Dzulqaidah 1378 H/ 14 Mei 1959).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s